#SuamiIstriMasak Salah Satu Cara Memperkuat Bonding dengan Pasangan

1 komentar
Nggak cuma dengan anak, kita juga perlu tahu cara memperkuat bonding dengan pasangan! Karena mau bagaimanapun, kita dengan pasangan tetap butuh waktu dan ruang untuk menjadi “aku dan kamu” sejenak, dengan meletakkan sebentar “ayah dan ibu”. Setuju?

Bonding antara suami dan istri itu, penting banget menurutku, ya. Karena sedikit saja ada renggang, nggak menutup kemungkinan komunikasi dan kedekatan keduanya pun ikut renggang :’) Iya nggak, sih?

Aku dan suami, membangun bonding ini setelah kami menikah. Karena sebelum menikah kami tidak saling mengenal, jadi setelah menikah adalah momen-momen terbaik kami untuk saling mengenal satu sama lain.

#suamiistrimasak

Stereotip Masyarakat Bahwa Dapur Hanyalah Urusan Istri

Beberapa waktu lalu, aku pernah membaca sebuah curhatan dari seorang ibu. Ibu ini berkisah, jika suaminya sama sekali tidak mau turun tangan untuk membantunya di dapur, bahkan untuk mencuci piring pun tidak pernah.

Beliau sudah pernah meminta bantuan suaminya, tapi gayung tak bersambut. Suaminya justru marah, alasannya adalah karena dia sudah lelah bekerja dan tugasnya mencari nafkah bukan masuk ke dapur.

Alhasil, ibu ini menjadi tidak nyaman dengan suaminya di usia pernikahannya yang baru menginjak 5 bulan :’)

Kisah lain datang dari guruku. Beliau memiliki suami yang cukup “nyentrik” (begitu para guru lain menyebut suaminya). Pasalnya, suami beliau ini tidak pernah mau tau apa yang terjadi di dapur, sama sekali tidak pernah ke dapur selama pernikahan mereka.

Namun ketika jam makan tiba, makanan harus sudah ada di meja makan ketika sang suami duduk di sana. Jika tidak, maka suami beliau akan marah.

Kisah-kisah di atas adalah kenyataan. Karena saat ini pun masih banyak terjadi.


Kolaborasi Suami Istri di Dapur, Mungkinkah?

Apakah ini karena budaya patriarki? Rasanya tidak. Ketika aku mulai mempelajari ilmu parenting, memasak atau urusan dapur termasuk dalam kategori life skill. Sehingga, ini adalah kegiatan yang bersifat umum tanpa mengkhususkan satu gender saja.

Aku sangat bersyukur, memiliki suami yang begitu peka terhadap hal ini. Sejak kami menikah sampai hari ini, dia selalu ringan tangan bahkan tanpa diminta pun akan selalu membantu. Masya Allah, alhamdulillah.

Awalnya, aku pun penasaran, kenapa suamiku bisa begitu cekatan di dapur dibandingkan dengan aku yang notabene adalah “perempuan”. Ternyata, dia terbiasa melihat bapak mertua juga aktif di dapur :’)

Aku angkat topi setinggi-tingginya atas keteladanan yang bapak mertuaku berikan.

Dari sini pula, aku menarik kesimpulan, bahwa keterlibatan para suami di dapur, bukan karena didasarkan pada “isu budaya” saja, tapi juga kebiasaan di lingkungannya. Setuju?

 

Saat ini, sebagian besar perempuan (khususnya para ibu) akan merasa kagum ketika mendengar kisah tentang kolaborasi sepasang pasutri di dapur. Ini bisa disebabkan karena tindakan tersebut adalah sesuatu yang asing bahkan “aneh” di lingkungan mereka.

Jadi, aku dan suami sudah sepakat, untuk membangun kebiasaan masuk dapur ke anak kami. Aku ingin dia terbiasa dengan kegiatan di dapur, itulah kenapa aku juga melibatkan dia ketika memasak, sesederhana mengaduk adonan tepung atau menuang bumbu.

Kolaborasi suami istri di dapur, bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih “berkuasa” dalam rumah. Namun, ini juga menunjukkan bahwa suami dan istri adalah rekan satu tim, bukan lawan.

Aku sebagai istri juga berharap, bahwa kehadiran atau keterlibatan suami di dapur ini jangan lagi mengaitkannya dengan “budaya”. Masak bareng istri, kan, juga buat bisa buat istri bahagia :D

Memasak Bersama, Jadikan Suami Istri Semakin Hangat

Aku masih ingat betul, masakan pertama yang dibuatkan suamiku di minggu pertama pernikahan, yakni martabak mie dengan telur bebek. Dia tahu, bahwa istrinya ini sama sekali nggak bisa masak, bahkan masak sayur bayam aja harus browsing di internet :’)

Esoknya kami membuat orak-arik sayur. Nah, di sinilah mulai muncul perbedaan diantara kami hahaha. Aku tim memasak telur terlebih dahulu kemudian menyisihkannya, sedangkan suamiku mencampur langsung telur ke dalam sayuran hahaha.

Namun itu bukanlah perbedaan yang besar, justru itulah bumbu-bumbu romantisme pasangan :D


Manfaat Memasak Bersama Pasangan

Membangun bonding pasangan

Bonding atau kelekatan ini bisa kita ciptakan dari berbagai kegiatan, salah satunya adalah memasak bersama. Ketika memasak bersama, kita tentu perlu berkomunikasi dan memahami satu sama lain.

Keterbukaan komunikasi

Nah, ini manfaat yang juga paling aku rasakan. Dari memasak bersama, kita akan tahu apa yang masing-masing suka dan tidak, baik itu preferensi rasa maupun tekstur.

Melalui hal-hal kecil seperti seberapa banyak takaran “sejumput garam”, kita juga perlu menyamakan persepsi. Karena jika tidak, kita bisa memiliki nilai rasa masakan yang berbeda. Benar?

Melalui komunikasi-komunikasi yang sederhana, maka kita dengan pasangan seharusnya juga menjadi lebih mudah ketika membicarakan masalah-masalah yang lebih pelik (hahahaha).

Berempati

Terkena cipratan minyak panas, mata pedih karena bawang merah hingga kulit panas karena cabai, adalah hal-hal yang juga sangat mungkin dirasakan oleh pasangan ketika ikut memasak bersama di dapur.

Rasa sakit ketika terluka karena pisau maupun lelah karena harus menunggu daging yang benar-benar matang, akan terbayar ketika pasangan memahami jika memasak juga sebuah perjuangan.

Menambah kebahagian

Aku sih selalu bahagia ketika memasak bersama suami ya hahaha. Karena ada yang bantu, meskipun lebih lama tapi faktanya memang lebih menyenangkan ketika memasak bersama.

Bahkan, kami juga seringkali saling menggoda dengan sayuran-sayuran yang ada di dapur :D


Cara Kami Berpadu Bersama di Dapur yang Minimalis

Kebetulan aku dan suami memang sudah terbiasa untuk memasak bersama, baik ketika weekend maupun weekdays.

Belanja Bersama

Salah satu cara kami berkolaborasi di dapur adalah memulainya dengan belanja bersama. Ya. Kami selalu belanja bersama, baik itu di pasar tradisional maupun supermarket (kecuali di tukang sayur yang insidental).

Bagi Tugas

Kemudian kami selalu membagi tugas, harapannya agar lebih hemat waktu dan cepat selesai. Pembagian tugas ini, juga berlaku ketika kami belanja khususnya ketika di supermarket.

Biasanya ketika masuk, kami akan terlebih dahulu mengecek ulang daftar belanjaan kemudian membagi, siapa yang akan membeli ini dan itu.

Ini juga berlaku di dapur. Jadi, akan ada tugas siapa yang memotong bahan makanan ini, siapa yang akan mencuci sayur itu hingga siapa yang akan mengawasi si toddler (bocil ini nggak pernah absen ikut ke dapur soalnya).

Kenapa kami membagi tugas untuk urusan dapur? Karena kami sadar betul, bahwa urusan dapur adalah tugas bersama-sama semua anggota keluarga, termasuk suami dan anak-anak.

Mengapresiasi Pasangan

Bagiku, mengapresiasi usaha pasangan untuk membantu urusan dapur itu perlu dilakukan. Karena nyatanya, nggak banyak suami yang mau ikut terjun ke area ini. Ya, kan?

Bukan gimana-gimana, tapi aku memang cukup sering mengatakan itu ke suami ketika membantuku memasak. Terutama untuk mengapresiasinya ketika melakukan hal yang bagi mereka cukup membingungkan, misal memotong daun bawang dengan ketebalan tertentu, mengiris cabai dengan kemiringan tertentu maupun merebus ayam dengan waktu tertentu.

Benar sekali, “tertentu” di sini, sifatnya memang sangat abstrak, ya.

“Maaf ya, kayaknya ini daun bawangnya ketebelen, deh”. Pernah suamiku berkata demikian setelah selesai memotong daun bawang ketika food preparation, huhuhu aku seketika melow dibuatnya, buund :’)

Aku cuma bilang “nggak apa-apa, yang, nanti dimasak juga rasanya sama aja. Makasih ya udah dibantu potong sayuran”

Jangan salah. Apresiasi kecil yang kita ucapkan kepada pasangan, bisa jadi akan membuat pasangan merasa lebih dihargai keberadaan dan usahanya di dalam rumah.

Tepiskan Risau Rasa Masakan, Kecap ABC Hadir untuk Keluarga Indonesia

Sejak mulai rajin masak, aku adalah tipe orang yang nggak suka ganti-ganti bahan masakan. Salah satu bahan yang menurutku penting adalah kecap manis. Ada juga yang sama?

Kecap ini, jika kita perhatikan, memiliki kepekatan warna dan rasa manis yang berbeda. Ada kecap yang memiliki warna hitam pekat, kecoklatan hingga coklat kemerah-merahan. Ada kecap yang rasanya manis, manis cenderung gurih maupun manis cenderung asin.

Dan pilihanku jatuh kepada Kecap ABC! Pasti sudah pada kenal kecap manis yang satu ini kan?


Alasan Kenapa Pilih Gunakan Kecap ABC untuk Memasak?

Jadi, anakku ini memang cukup suka sama kecap, salah satu bahan makanan yang cukup populer di Indonesia. Itulah kenapa, aku pun juga cukup selektif soal pemilihan kecap.

Gunakan Kedelai Perasan Pertama

Nah, kenapa pakai kecap ABC? Yang pertama adalah karena ini dibuat dari perasan kedelai pertama. Jadi, rasa yang dihasilkan juga lebih kaya. Kalau udah perasan yang kesekian, pasti rasanya juga beda, kan?

Warna Pekat

Menurutku, warna kecap juga berpengaruh ke hasil masakan. Aku tipe yang suka lihat hasil masakan itu sesuai ekspektasi. Beruntungnya, warna yang diberikan kecap ABC ini bisa dibilang sesuai ekspektasi.

Mau dipakai untuk masak oseng, sayur semur, bumbu sate sampai sambal kecap juga warnanya cocok.

Rasa Kaya Rempah

Teman-teman pernah coba rasakan kecap-kecap yang ada di pasaran? Itu kalau diperhatikan, rasanya beda-beda. Kecap ABC ini, menurutku juga cukup unik, ya. Karena nggak cuma manis aja, tapi ada sensasi gurih dan ada rempah-rempah gitu.

Makanya, nggak heran kalau anakku suka “gadoin” kecap ABC ini :’)

Tekstur Kental

Soal tekstur ini juga penting, ya. Karena kekentalan kecap juga berpengaruh ke kuantitas bumbu masak yang lain (menurutku). Dan kekentalan kecap manis ABC ini sangat pas.

Apalagi jika digunakan sebagai bumbu oles sate, mantap! Untuk sambal kecap, aku biasanya menambahkan sedikit air (aku suka sambal kecap yang sedikit encer soalnya).

Tunggu dulu, apakah teman-teman tahu, jika Kecap ABC mengadakan kampanye #SuamiIstriMasak ? Belum? Yuk, kita bahas sebentar, yaaa.


#SuamiIstriMasak : Dukungan Kecap ABC untuk Kegiatan Memasak Bersama Pasangan Demi Relasi yang Lebih Harmonis

Kampanya #SuamiIstriMasak di dapur ini, sudah dilakukan sejak beberapa tahun oleh kecap ABC. Ini juga dikarenakan Kecap ABC menyadari kolaborasi suami dan istri di dapur bisa menyatukan keluarga dan mendukung satu sama lain.

Benar sekali. Karena ketika aku pun memasak bersama suami, yang kita butuhkan adalah dukungan dan harus bersatu. Karena kita adalah tim - partner.

Jika teman-teman belum tahu, pada tahun 2018 silam, Kecap ABC sendiri sudah mulai menginisiasi kampanye #SuamiIstriMasak. Kemudian di tahun berikutnya, yakni pada 2019, kampenye yang sama berlangsung selama Hari Kesetaraan Perempuan.

Tentu saja ini bukan tanpa alasan jika mengingat tujuan Kecap ABC menggalakan kampanye tersebut. Bahwa tugas di dapur, bukan menjadi kewajiban istri atau perempuan saja.




Lalu pada tahun 2020, kampanye yang sama masih berlangsung. Namun kali ini, Kecap ABC berkolaborasi bersama sebuah platform edukasi dengan dengan melibatkan anak-anak di Hari Kesetaraan Perempuan.

Menurutku pribadi (sebagai seorang ibu), ini adalah langkah yang sangat bijak. Mengingat anak-anak ini tumbuh dalam sebuah keluarga yang mana merupakan “ruang belajar” pertama. Dari rumah, kebiasaan hingga cara berpikir mereka di bentuk.

Dengan mengetahui kolaborasi antara ayah dan ibunya di dapur, tentu saja anak-anak memiliki rekaman tersebut dalam memorinya. Bukankah ini juga merupakan proses belajar bagi mereka? Yakni melibatkan kehadiran anak dalam rutinitas keluarga?

Kemudian yang terbaru, yaitu pada tahun 2021 lalu. Kecap ABC kembali mengadakan kampanye #SuamiIstriMasak dengan menggandeng selebritis papan atas, mereka adalah Titi Kamal dan Christian Sugiono.

Sekali lagi, ini juga pilihan yang tetap. Mengingat selama ini, keduanya merupakan pasangan suami istri yang terkenal dengan aura positifnya. Dari keduanya tampil di publik, harapannya semakin banyak masyarakat yang juga peduli tentang kolaborasi suami dan istri di dapur.

Karena baik Titi Kamal maupun Christian Sugiono, tentulah keduanya memiliki kesibukan masing-masing tapi di dalam keluarga, keduanya adalah tim yang harus berkolaborasi untuk kebaikan bersama.

#SuamiIstriMasak Hal yang Mustahil?

Coba teman-teman lihat video di bawah ini, sebentar.




Sudah? Apa yang teman-teman rasakan? Relate?

Tulisan ini, sesungguhnya terinspirasi dari video di atas. Ya. Sebelum menulis ini, aku sudah menonton video tersebut dua atau tiga kali.

Aku ingin membagikan pengalamanku, memasak bersama dengan suami di dapur yang jauh dari kesan estetik apalagi instagramable :’)

Menurutku pribadi, memasak bersama dengan pasangan bukanlah hal yang mustahil. Karena memasak bukan cuma tugas seorang perempuan saja, memasak adalah sebuah kegiatan yang sifatnya universal.

Jadi, yuk buibuuuuuu jangan ragu untuk mengajak suaminya collab di dapur, ya. Nggak apa-apa dapur lebih berantakan, waktu memasak sedikit lebih lama atau munculnya perbedaan-perbedaan ketika memasak.

Karena itu memang hal yang sangat wajar dan manusiawi, ya. Bukankah kita adalah dua manusia dengan kepala, pikiran dan kebiasaan yang berbeda dan disatukan dalam ikatan pernikahan? Eeeeaa :D

Satu dua kali ditolak suami untuk masak bareng, nggak apa-apa. Jangan putus asa, ya. Masih ada hari esok, atau coba masakkan makanan ke suami sambil bisik-bisik “mas, besok masak bareng yuk, aku buatkan yang lebih enak dari ini” (para single, tolong dimaklumi kondisi ini, ya), atau bisa juga dikasih lihat video di atas tadi hohoho

Cara memperkuat bonding dengan pasangan, yang murah dan gampang salah satunya adalah memasak bersama. Setuju?

Kesimpulanku tentang kampanye #SuamiIstriMasak?

Menarik, ya, kampanye #SuamiIstriMasak ini. Sepanjang menulis artikel ini, aku jadi mengingat-ingat lagi momen manis ketika memasak bersama suami.

Tidak setiap hari kami memasak bersama, karena dia harus bekerja selama weekdays dan sesekali di akhir pekan. Namun ketika ada kesempatan, kami akan melakukannya. Memasak bersama, juga menjadi momen kami untuk berbincang tentang banyak hal, termasuk kapan akan memasang pagar rumah :D hahahaha

Memasak bersama pasangan, adalah kesempatan bagi kita untuk menyelami diri pasangan. Karena saat memasak, kita menjadi diri kita secara utuh. Bukankah saat memasak, kita memvisualkan apa yang ada dalam imajinasi? Saat itulah, salah satu momen terbaik untuk memahami pasangan.



Nggak masalah kalau suami kita mungkin pernah membuat rasa masakan lebih aneh, irisan timun yang terlalu tipis atau bahkan membuat banyak cipratan minyak di lantai. Manusiawi. Namun, jangan pernah berhenti untuk “berpikir” untuk memasak bersama dia.

Mari tunjukkan pada suami, bahwa kita juga membutuhkan kehadirannya di dapur, sesederhana untuk mengupas kentang. Jangan lagi meluapkan rasa lelah karena terlalu lama dan repot di dapur dengan membanting panci hingga menyindirnya sepanjang hari.

Stop! Karena suami kita juga manusia dewasa seperti kita. Mereka butuh diapresiasi atas semua usaha dan dihargai atas kehadirannya. Sudahkah kita melakukannya? Mari memulainya dengan “meminta tolong”.



Oke deh, gitu aja, sampai jumpa di curhatan ibu selanjutnya yaaaa :D Takut tulisannya makin panjang, curhatnya makin ke mana-mana. Intinya, yuk masak bareng suami dan pastikan pakai Kecap ABC, yaks!



Untuk suamiku yang membaca tulisan ini (karena disuruh istrinya), terima kasih karena selama 5 tahun ini sudah banyak membantu urusan di dapur. Tulisan ini, aku dedikasikan untuk kamu :)
Nimas Achsani
Parenting, pernikahan, finansial dan gaya hidup

Related Posts

1 komentar

  1. seru bangettt, semoga nanti aku dapet pasangan yang seperti ini :')

    BalasHapus

Posting Komentar