Tahapan Perkembangan Emosional Anak. Sampai Dimanakah Anak Kita?

Ada perbedaan tahapan perkembangan emosional anak di tiap umurnya yang akan selalu bertumbuh. Ada tahap perkembangan emosional anak usia dini, perkembangan emosional anak berusia 6 tahun, dan saat usianya 6 sampai 12 tahun.

Sehingga tak heran jika banyak orangtua, termasuk kita yang berpikir bahwa perilaku anak mudah sekali berubah-ubah. Secara psikologi hal ini benar kok. Karena perilaku anak biasanya dipengaruhi oleh emosinya sendiri dan juga seiring dengan pertumbuhannya. Selain itu aspek perkembangan rasa emosionalnya juga akan semakin bertambah dari pengaruh lingkungan di sekitarnya.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk memahami seperti apa tahapan perkembangan emosional anak agar kita bisa membantunya dalam mengelola emosinya dengan baik.

Bagaimana caranya? yuk simak artikel berikut.

tahapan perkembangan emosional anak

Tahapan Perkembangan Emosional Anak

Ketika Bayi Berusia 0 Tahun

Dalam fase ini, si kecil masih banyak mengandalkan instingnya. Emosi yang muncul pertama yang bisa dirasakan adalah rasa aman. Dia akan bisa merasakan rasa aman dari lingkungan sekitarnya, seperti saat dia digendong ibunya, diberi ASI dan diajak bicara oleh ibunya.

Seiring berjalanya waktu, si kecil dengan rasa aman dan nyaman yang dimilikinya, dia akan lebih mudah untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya sehingga dia akan mampu memberikan respon seperti tersenyum saat diajak bicara oleh orang lain.

Ketika Bayi Berusia 1-2 Tahun

Ketika memasuki usia 1 hingga 2 tahun, bayi kita akan semakin pintar untuk menunjukkan dan mengekspresikan emosinya. Dia akan menunjukkan dengan marah, takut, menangis ataupun senang.

Tentu dia belum bisa mengekspresikan perasaannya melalui kata-kata, sehingga pada fase ini, dia akan mudah menangis dan gelisah ketika keinginannya tidak mampu kita pahami. Itulah makanya kita sering melihatnya menjadi lebih manja dengan orang-orang yang sering ditemuinya sehari-hari.

Fase Usia 3 Tahun

Masuk pada usia ini, anak kita akan mulai aktif dan bisa beradaptasi dengan menjalin pertemanan dengan anak seusianya. Dia akan mampu menunjukkan rasa toleransi yang dimilikinya pada orang lain, dan aja mulai bisa merasakan apa yang orang lain rasakan.

Pada fase ini pula, cara dia mengendalikan dirinya akan semakin baik, dia mampu mengendalikan emosinya dan lebih inisiatif juga akan mampu mengambil keputusannya sendiri.

Saat Usia 4 Tahun

Pada usianya yang ke empat, anak kita akan terlihat semakin ingin bermain bebas dengan teman-teman sepermainannya, dia juga akan mampu untuk berinteraksi lebih baik dengan lingkungannya. Pada saat inilah si kecil akan semakin memahami apakah dia diterima dengan baik atau diabaikan di lingkungannya.

Contoh sederhana jika dia mampu diterima dengan baik oleh temannya, maka dia akan mampu mengungkapkan pendapat dan imajinasinya kepada teman-temannya. Dia juga akan mampu menjadi pemimpin dalam sebuah permainan. Namun jika dia diabaikan dan tidak diterima kelompoknya, kemungkinan dia akan selalu tertutup juga tidak mampu mengekspresikan diri dan mengeluarkan pendapat kepada temannya.

Pada fase ini diharapkan orangtua untuk lebih banyak mengarahkan anak agar dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal, seperti "Aku senang, tadi temanku berbagi kuenya" atau "Aku sedih, karena temanku tadi jatuh".

Usia 5-6 Tahun

Ketika anak kita menginjak usia ini, perkembangan emosinya akan semakin terbentuk, meskipun terkadang juga akan sering berubah-ubah. Sebentar senang, kemudian sebentar lagi sedih, pada fase inipun. Keterampilan yang dimiliki anak akan semakin terasah dengan baik.

Si anak akan mulai memiliki rasa bangga juga kecewa yang akan muncul ketika dia melakukan sesuatu. Contohnya adalah ketika dia mampu membuat orang lain kagum padanya, maka rasa yang akan muncul adalah bangga karena dia merasa berhasil. 

Sebaliknya jika dia tak mampu melakukan sesuatu itu yang membuat orang lain kagum, maka bisa saja yang terjadi adalah akan timbul rasa rendah diri sehingga dia akan merasa sedih.

Pada usia inilah perlu sekali untuk para orangtua pada tahap perkembangan emosional anak usia dini untuk lebih bisa mengajarkan anak untuk menghargai proses, bukan hanya hasil yang diperoleh.

Nah, itulah tadi beberapa tahapan perkembangan emosional anak usia dini yang harus diketahui oleh para orangtua. Jika perkembangan emosional anak berjalan dengan baik, maka dia akan mudah diterima di lingkungannya, dan di sinilah pentingnya peran orangtua untuk membimbing, membersamai dan mengajari anak pada masa-masa ini.

Jadi, sudah sampai manakah tahapan emosional anak kita saat ini? Sharing di kolom komentar ya.

Semoga bermanfaat :)

Note : Baca juga artikel soal jalan-jalan dengan ikut menekan "klik" pada link yang terletak di bagian akhir paragraf ini. Bagaimana kita bisa mengasah emosinya dengan pergi jalan-jalan dan menemui banyak orang lho. Bisa jalan-jalan ke tempat wisata seperti Bangka Belitung, Raja Ampat, Bali, dan lain-lain. Untuk Sewa Mobil Belitung, tulisan ini bisa menjadi rekomendasi ya.



4 Keuntungan ASI. Tidak Hanya Untuk Bayi Lho!

 Mungkin diantara kita sudah sadar akan pentingnya ASI. Edukasi soal pentingnya ASI juga bisa kita akses melalui media manapun, dan tentunya sudah banyak tersedia di sana. Hanya saja, kali ini saya ingin menyarikan keuntungan ASI dari sudut pandang ahlinya. Dari sebuah buku karya dokter terkenal itu. Hayoo siapa? Yuk, tuntaskan membaca artikel ini.

keuntungan ASI

ASI : Nutrisi Paling Penting dalam Enam Bulan Pertama

Banyak pertanyaan memenuhi kepala seorang ibu baru yang memasuki "masa transisi". Untuk itu, bekal pemberian nutrisi anak yang tepat harus dimiliki oleh seluruh orangtua, tak terkecuali. Apapun pangkat dan golongannya. Pertumbuhan dan perkembangan optimal seorang anak adalah tujuan yang ingin kita capai bersama kan?

Yuk kita mulai dengan memahami pentingnya pemberian ASI bagi bayi terlebih dahulu, dilanjutkan dengan praktik pemberian makanan pendamping ASI lalu memantau pertumbuhan anak dengan benar.

Perlu diingat bahwa :

  • Ibu yang baru melahirkan akan memproduksi ASI yang cukup bagi bayinya untuk dapat tumbuh. Hal itu juga dipengaruhi oleh tidak diberikannya minuman atau makanan selain ASI.
  • Produksi ASI mengikuti prinsip demand and supply. Yakni semakin sering bayi menetek ke payudara ibu, maka makin banyak produksi ASI yang dihasilkan. Apabila bayi diberikan susu formula atau cairan lainnya, maka suplai ASI akan menurun. Seorang Ibu harus membekali dirinya sebaik mungkin dengan ilmu terkait ASI.

Apa Saja Keuntungan ASI?

Keuntungan ASI ini tidak hanya bagi bayi lho, tapi juga untuk ibunya.

1. Manfaat Imunologis

Keuntungan ASI dalam hal daya tahan tubuh ini bisa dirasakan oleh bayi. Karena ASI adalah substansi "hidup" dan kandungannya senantiasa berubah menyesuaikan dengan kebutuhan bayi. 

Selain berisi nutrisi, ASI juga mengandung antibodi yang mampu memerangi berbagai infeksi yang masuk ke tubuh bayi. Sejak masih berupa kolostrum (ASI yang dihasilkan saat jam-jam awal pasca persalinan). Kolostrum lebih kaya protein, rendah gula dan lemak.

Bayi yang diberi ASI mendapatkan kekebalan yang lebih baik saat menghadapi penyakit "langganan" seperti selesma/common cold (batuk-pilek), dan gangguan pencernaan.

 Penelitian menunjukkan pemberian ASI selama enam bulan mengurangi angka diare sampai setengahnya, dan infeksi saluran pernapasan sampai sepertiganya.

2. Manfaat Nutrisi

Pemberian ASI terbukti sesuai dengan laju pertumbuhan dan memenuhi kebutuhan nutrisi bayi cukup bulan. 

ASI mengandung cukup karbohidrat, lemak, protein, dan mikronutrien yang dibutuhkan bayi dalam enam bulan pertama pertumbuhannya.

Jumlah nutrisi tersebut senantiasa berubah mengikuti usia anak. Namun, ada beberapa mikronutrien yang tidak tercukupi, misalnya zat besi yang disarankan suplementasinya ketika bayi cukup bulan memasuki umur 4 bulan.

Dibandingkan dengan susu formula, ASI mengurangi risiko bayi menjadi anak yang obes (kelebihan berat badan) pada kemudian hari.

3. Manfaat Emosional

Bayi yang disusui langsung ibunya mendapatkan rasa aman, dan meningkatkan kedekatan emosional Ibu dengan anaknya. 

Bayi yang mendapatkan susu formula juga bisa mendapatkan kedekatan efektif dengan orangtuanya, misalnya dengan kontak mata saat memberikan susu formula.

4. Keuntungan ASI bagi Ibu

Ibu menyusui terbukti lebih rendah berisiko mengalami kanker payudara, kanker ovarium (indung telur), diabetes, dan osteoporosis.

Berbagai bukti ilmiah menyarankan ASI sebagai satu-satunya makanan yang diperlukan agar bayi mendapat pertumbuhan dan perkembangan optimal. Menyusui dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit dan kebutuhan nutrisi bagi bayi.

Menyusui juga dapat mengurangi risiko terjadinya kanker payudara, kanker indung telur (ovarium), diabetes, juga osteoporosis. Tak hanya itu, menyusui juga akan memberikan keintiman/ikatan yang kuat antara bayi dan ibu.

ASI merupakan cairan hidup yang komposisinya akan berubah seiring pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kandungan nutrisi ASI pun amat mudah dicerna sehingga dapat diserap secara optimal dan tidak memberikan beban berlebih pada ginjal bayi. Menyusui juga dapat mengurangi risiko terjadinya obesitas sepanjang kehidupan seorang anak.

Produksi ASI akan sangat berkaitan dengan permintaan sang bayi terhadap ASI. Semakin sering bayi mengisap payudara, semakin banyak ASI yang akan diproduksi. Hal itu membuat tambahan cairan atau formula selain ASI akan memengaruhi produksi ASI.

Mengapa sih ada Ibu yang dikatakan gagal memberikan ASI eksklusif? Apa si Ibu kurang jalan-jalan dan butuh hiburan? Simak penjelasan soal masalah Meng-ASI-hi di artikel berikutnya ya.

Referensi : Makan Tepat, Tumbuh Sehat oleh dr. Arifianto, Sp.A

Solusi Agar Kakak Beradik Tak Selalu Bertengkar

Sahabat, pernah ngga sih Anda menjumpai seorang kakak beradik yang sering sekali bertengkar, sehingga muncul tantangan tersendiri untuk orangtuanya. Memang ini bukan termasuk pekerjaan yang mudah, untuk bisa membuat agar si kakak bisa bermain akur dan tak bertengkar dengan adiknya, berantem tentang rebutan mainan ataupun rebutsn kasih sayang orangtuanya.

Meskipun semua orangtua sayang dengan semua anaknya, lakukan tips berikut agar bisa menjadi solusi agar kakak beradik tak selalu bertengkar. Agar mereka tetap bisa akur dan saling dayang. Apa saja? Simak penjelasannya berikut yuk!

solusi agar kakak beradik tak selalu bertengkar

Solusi Agar Kakak Beradik Tak Sering Bertengkar

1. Jangan Membanding-bandingkan mereka

Setiap anak sudah pasti terlahir dan memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Mereka sudah pasti memiliki kekuatannya masing-masing. Ketika adik memiliki kekurangan, dia juga pasti memiliki kelebihan.

Dalam kondisi seperti ini, yang terjadi justru orangtua akan sering membanding-bandingkan antara anaknya. Padahal, jika Anda menyadari ini adalah perbuatan yang sungguh menimbulkan dampak buruk bagi psikologis dan perkembangan si kecil.

Sadarkah Anda? Saat kita sudah melakukan hal ini pada anak kita? Sudah tentu akan menimbulkan hal buruk untuk perkembangan psikologisnya. Kakak dan adik yang sering dibanding-bandingkan akan memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah lho. Selain itu, mereka juga akan merasa kesal juga sulit akur dan membangun rasa sayang pada jajaka ataupun adiknya.

2. Jangan Memihak Pada Satu Anak

Jika kakak dan adik bertengkar, sebaiknya kita perlu untuk mengetahui apa penyebab dan kejadian yang menimbulkan konflik tersebut. Maka dari itu sangat perlu untuk tidak membela dan berpihak pada salah satu saja. Tetaplah untuk bersikap netral apabila Anda sedang menghadapi masalah yang mungkin saja akan muncul.

Jika diperlukan, ajaklah si kakak dan adik saling meminta maaf dan menyesali perbuatannya masing-masing. Bantulah mereka untuk mengetahui mana perilaku salah yang sudah dilakukan. Dengan begini Anak kita akan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama pada waktu lain.

Melalui sikap netral Anda, anak-anak tentu akan melihat bahwa orangtuanya adil kepada mereka berdua. Namun jika yang terjadi justru sebaliknya, Anda memihak pada salah-satu dari mereka sudah pasti akan muncul rasa benci dan pihak yang tidak di beka pada saudaranya tersebut.

3. Mendengarkan Keluhan Anak

Tak hanya seorang anak, orangtuapun juga memiliki banyak sekali keluhan. Entah itu keluhan sama temannya, sama keluarganya bahkan juga keluhan pada adik atau kakaknya. Apalagi jika sebelumnya di anak sudah sangat terbiasa memiliki semuanya sendiri, kemudian dia tiba-tiba pula harus bisa berbagi dengan saudaranya yang lain.

Jika Anda berapa pada posisi ini, sebaiknya adalah jangan menutup diri. Biarkan Anak Anda bercerita dan dengarkan semua keluh kesahnya, dengarkan semua yang di ceritakan ya dan biarkan mereka berbicara mengeluarkan semua keluh kesahnya. 

Setelah mereka merasa lega dan puas bercerita, silahkan Anda memberikan pengertian padanya. Bicaralah pada mereka bahwa sejarah apapun kita, selesai apapun kita sama kakak atau adik kita, kita harus tetap menyayangi mereka, ajarkan pula cara yang paling pantas untuk mengekspresikan kekesalannya tersebut.

Kita pun juga bisa memberikan contoh tentang bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan bude, pakde, om atau tantenya. Ceritakan jika Anda pun pernah merasa kesal saat kecil dulu, namun ceritakan bahwa Anda akan terus menyayangi mereka hingga akhirnya bisa selalu rukun sampai sekarang.

4. Libatkan Anak Untuk Saling Membantu

Jika yang terjadi adalah kakak yang selalu saja berselisih paham sampai berkelahi, Anda sebaiknya jangan dulu untuk menjauhkan mereka. Libatkanlah mereka dalam kegiatan bersama yang aman dalam membiasakannya untuk saling membantu satu sama yang lain. 

Seperti ketika mereka selesai menggunakan mainannya, biarkan untuk mereka bisa saling membantu untuk membereskannya bersama-sama.

Anda pun juga bisa meminta bantuan dari kakak atau adik untuk saling mengajari dan memberikan contoh satu dengan yang lain. Seperti jika adik kesulitan saat memberi warna pada gambarnya, mintalah untuk si kakak bisa membantu adiknya. Begitu juga sebaliknya, jika si kakak kesulitan untuk mengambil gelas minumnya, biarkan adiknya yang membantu untuk mengambilkan bola si kakak.

5. Berilah Solusi Yang Terbaik

Zaman dulu, pola asuh yang ada dan sering sekali di terapkan adalah bahwa seorang kakak harus bisa mengalah dengan adiknya. Orangtua dulu mungkin belum menyadari bahwa cara asuh seperti ini hanya akan membuat hubungan kakak dan adik menjadi semakin merenggang dan sangat rentan menjadikan mereka bermusuhan.

Seorang kakak yang seharusnya malah di hormati adiknya. Mungkin saja akan kehilangan rasa percaya dirinya. Sementara si adik akan tumbuh menjadi pribadi yang akan mudah untuk menyalahkan orang lain.

Oleh karena itu, berilah solusi yang tepat dan lebih masuk akan, bukan hanya menurut usia kakak yang lebih tua dan lebih dulu mengerti daripada adiknya.Seperti ketika kakak dan adik saling berebut mainan. Berilah solusi untuk mereka bisa bergantian bermain, dengan begini anak akan bisa saling berkompromi dan mencari solusi terbaik dari permasalahan yang mereka hadapi.

Itulah sedikit tips solusi agar si kakak beradik tak selalu bertengkar antara satu dengan yang lain. Yuk lakukan tips sederhana ini untuk membuat hubungan kakak beradik menjadi lebih akur dan saling menyayangi antara satu dan yang lain. Jika anak kita saling menyayangi saudaranya, maka mereka juga akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki sifat lebih lembut, penyayang dan peduli pada orang lain.

Semoga bermanfaat ya.