Memahami Bahasa Cinta untuk Anak Agar Tangki Cinta Anak Terpenuhi

Seorang anak sudah tentu harus memahami jika orangtuanya akan selalu mengasihi dan menyayangi juga memahaminya dengan baik. Dengan memahami bahasa cinta dengan anak, ia akan merasa aman dan nyaman untuk bisa berkomunikasi dengan terbuka pada kita sebagai orangtuanya.

Di Indonesia, rata-rata pernikahan adalah pada usia 25 tahun. Saat di usia 26 tahun, melahirkan anak pertamanya dan itu akan menimbulkan setitik masalah yang sudah pasti akan muncul. Terlebih saat ini perkembangan teknologi yang sangat pesat akan sangat berdampak bagi perkembangan nilai budaya juga standar moral yang akan membuat kesenjangan generasi menjadi sangat luas.

Beberapa orang mengatakan gap antar generasi menyempit. Generasi milenial melahirkan generasi Z. Lalu generasi Z akan melahirkan generasi alpha. Gap mereka cukup dekat. Menurut saya sih harapannya bahasa cinta dengan anak akan tersampaikan dengan baik dan bisa dipahami oleh si anak. Meskipun setiap orangtua memiliki caranya sendiri dalam menyampaikan bahasa cintanya dengan anak.

bahasa cinta untuk anak

Bahasa Cinta untuk Anak Penuhi Tangki Cintanya

Mengutip dari laman Kompas.com, menurut seorang konselor dan penulis The 5 Love Language, Gary Chapman menjelaskan; ada lima bahasa cinta untuk anak.  Yaitu sentuhan fisik, hadiah, kata-kata positif, quality time, dan acts of service (memberikan bantuan).

Kami rangkum di sini tentu saja versi Jendelacaca, tentang beberapa macam bahasa kasih sayang yang sudah pasti setiap orangtua miliki, paling tidak satu diantaranya, adalah sebagai berikut:

1. Kata yang menguatkan

Seseorang dengan bahasa cinta ini, cenderung lebih suka dan merasa sangat disayang saat dia sedang dipuji. Mereka cenderung senang jika diberikan motivasi atau dukungan dan semangat yang diucapkan berulang atau berkali-kali. 

Sebaliknya, kata-kata negatif yang diucapkan terhadapnya pun juga dapat sangat melukai hatinya. Iapun akan mengungkapkan rasa kasih sayang mereka dengan cara memujinya.

2. Adanya waktu yang berkualitas

Memiliki waktu untuk bermain dan beraktifitas bersama adalah salah satu ungkapan cinta untuk anak dan orang tua. Keberadaan orangtua disisi anak-anaknya sungguh sangat berarti, terutama saat dia merayakan hari bagia atau moment terpenting dalam hidupnya.

Merayakan kebersamaan dengan bermain bersama, berlibur dan menonton bersama atau bercerita antara satu dengan yang lain, akan membuat perasaan anak kita lebih bahagia. Bahasa cinta ini akan bisa lebih dirasakan dan anak atau orangtua akan lebih bisa menghargai satu dengan yang lainnya.

3. Memberi hadiah

Suatu pemberian akan membuat seseorang yang diberi merasa diperhatikan dan di kasihi, meskipun bukan barang mahal yang berarti adalah perhatian dan rasa peduli yang dicurahkan dalam pemberian tersebut. 

4. Layani dengan baik

Jangan gengsi untuk bisa melayani anak kita dengan baik. Meskipun kita orangtuanya, sudah sewajibnya kita memberikan pelayanan yang terbaik dan berkualitas untuk anak-anak kita. Berikan pelayanan dengan sesekali membantu anak Anda jika dibutuhkan, seperti membantunya menyiapkan keperluan sekolah, membantu menidurkannya dan lain sebagainya.

5. Berikan sentuhan fisik

Sentuhan fisik, secara emosi bisa berbentuk pelukan atau rangkulan. Pelukan Anda sangat dibutuhkan anak terutama ketika dia sedang merasa sedih, merasa sedang tidak baik-baik dan itu akan sangat berarti untuknya. Ketika kita mampu memperhatikan saat anak kita menuai masalah, sudah pasti anak kita akan merasa lebih diperhatikan dan lebih disayangi orangtuanya.

Dengan bahasa cinta yang sudah disebutkan tadi, diharapkan orangtua atau anak bisa mencari bahasa cintanya sendiri-sendiri. Langkah-langkah berikut bisa teman-teman jadikan acuan agar dapat mengenali dan menemukan jenis bahasa cinta mana yang paling utama yang ada pada diri kita dan juga anak-anak.

  • Perhatikan bahasa cinta diri kita terlebih dahulu
  • Perhatikan bagaimana anak kita mengekspresikan cintanya pada kita
  • Perhatikan bagaimana anak kita berekspresi mencintai atau mengasihi orang lain
  • Bagaimana cara anak kita berinteraksi dan bergaul dengan setiap individu yang lain
  • Coba perhatikan apa yang sering sekali diminta oleh anak kita, dengarkan apa yang sering di inginkan anak kita agar kita bisa lebih memahami bahasa cintanya
  • Dengarkan keluhan anak kita. Saat kita perhatikan dan pahami saat dia mengeluh, itu adalah salah-satu yang berhubungan dengan bahasa cinta yang mereka miliki.

Jadi, setelah mengetahui bagaimana bahasa cinta dari masing-masing. Anak dan orangtuanya,coba mulai beradaptasi dengannya. Lakukan hal yang sesuai dengan bahasa cinta kita dan anak kita. Ajak anak untuk berdiskusi dan membahas bahasa cintanya. Dengan begitu, orangtua dan anak akan sama-sama merasa dicintai, kesalahpahaman yang terjadi bisa dihindari dan hubungan orangtua dan anak akan kembali menjadi lebih baik.

Selamat memahami bahasa cinta dengan ya bund, semoga apa yang ditulis di artikel ini bermanfaat. Yuk penuhi tangki cinta anak kita :)

Tahapan Perkembangan Emosional Anak. Sampai Dimanakah Anak Kita?

Ada perbedaan tahapan perkembangan emosional anak di tiap umurnya yang akan selalu bertumbuh. Ada tahap perkembangan emosional anak usia dini, perkembangan emosional anak berusia 6 tahun, dan saat usianya 6 sampai 12 tahun.

Sehingga tak heran jika banyak orangtua, termasuk kita yang berpikir bahwa perilaku anak mudah sekali berubah-ubah. Secara psikologi hal ini benar kok. Karena perilaku anak biasanya dipengaruhi oleh emosinya sendiri dan juga seiring dengan pertumbuhannya. Selain itu aspek perkembangan rasa emosionalnya juga akan semakin bertambah dari pengaruh lingkungan di sekitarnya.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk memahami seperti apa tahapan perkembangan emosional anak agar kita bisa membantunya dalam mengelola emosinya dengan baik.

Bagaimana caranya? yuk simak artikel berikut.

tahapan perkembangan emosional anak

Tahapan Perkembangan Emosional Anak

Ketika Bayi Berusia 0 Tahun

Dalam fase ini, si kecil masih banyak mengandalkan instingnya. Emosi yang muncul pertama yang bisa dirasakan adalah rasa aman. Dia akan bisa merasakan rasa aman dari lingkungan sekitarnya, seperti saat dia digendong ibunya, diberi ASI dan diajak bicara oleh ibunya.

Seiring berjalanya waktu, si kecil dengan rasa aman dan nyaman yang dimilikinya, dia akan lebih mudah untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya sehingga dia akan mampu memberikan respon seperti tersenyum saat diajak bicara oleh orang lain.

Ketika Bayi Berusia 1-2 Tahun

Ketika memasuki usia 1 hingga 2 tahun, bayi kita akan semakin pintar untuk menunjukkan dan mengekspresikan emosinya. Dia akan menunjukkan dengan marah, takut, menangis ataupun senang.

Tentu dia belum bisa mengekspresikan perasaannya melalui kata-kata, sehingga pada fase ini, dia akan mudah menangis dan gelisah ketika keinginannya tidak mampu kita pahami. Itulah makanya kita sering melihatnya menjadi lebih manja dengan orang-orang yang sering ditemuinya sehari-hari.

Fase Usia 3 Tahun

Masuk pada usia ini, anak kita akan mulai aktif dan bisa beradaptasi dengan menjalin pertemanan dengan anak seusianya. Dia akan mampu menunjukkan rasa toleransi yang dimilikinya pada orang lain, dan aja mulai bisa merasakan apa yang orang lain rasakan.

Pada fase ini pula, cara dia mengendalikan dirinya akan semakin baik, dia mampu mengendalikan emosinya dan lebih inisiatif juga akan mampu mengambil keputusannya sendiri.

Saat Usia 4 Tahun

Pada usianya yang ke empat, anak kita akan terlihat semakin ingin bermain bebas dengan teman-teman sepermainannya, dia juga akan mampu untuk berinteraksi lebih baik dengan lingkungannya. Pada saat inilah si kecil akan semakin memahami apakah dia diterima dengan baik atau diabaikan di lingkungannya.

Contoh sederhana jika dia mampu diterima dengan baik oleh temannya, maka dia akan mampu mengungkapkan pendapat dan imajinasinya kepada teman-temannya. Dia juga akan mampu menjadi pemimpin dalam sebuah permainan. Namun jika dia diabaikan dan tidak diterima kelompoknya, kemungkinan dia akan selalu tertutup juga tidak mampu mengekspresikan diri dan mengeluarkan pendapat kepada temannya.

Pada fase ini diharapkan orangtua untuk lebih banyak mengarahkan anak agar dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal, seperti "Aku senang, tadi temanku berbagi kuenya" atau "Aku sedih, karena temanku tadi jatuh".

Usia 5-6 Tahun

Ketika anak kita menginjak usia ini, perkembangan emosinya akan semakin terbentuk, meskipun terkadang juga akan sering berubah-ubah. Sebentar senang, kemudian sebentar lagi sedih, pada fase inipun. Keterampilan yang dimiliki anak akan semakin terasah dengan baik.

Si anak akan mulai memiliki rasa bangga juga kecewa yang akan muncul ketika dia melakukan sesuatu. Contohnya adalah ketika dia mampu membuat orang lain kagum padanya, maka rasa yang akan muncul adalah bangga karena dia merasa berhasil. 

Sebaliknya jika dia tak mampu melakukan sesuatu itu yang membuat orang lain kagum, maka bisa saja yang terjadi adalah akan timbul rasa rendah diri sehingga dia akan merasa sedih.

Pada usia inilah perlu sekali untuk para orangtua pada tahap perkembangan emosional anak usia dini untuk lebih bisa mengajarkan anak untuk menghargai proses, bukan hanya hasil yang diperoleh.

Nah, itulah tadi beberapa tahapan perkembangan emosional anak usia dini yang harus diketahui oleh para orangtua. Jika perkembangan emosional anak berjalan dengan baik, maka dia akan mudah diterima di lingkungannya, dan di sinilah pentingnya peran orangtua untuk membimbing, membersamai dan mengajari anak pada masa-masa ini.

Jadi, sudah sampai manakah tahapan emosional anak kita saat ini? Sharing di kolom komentar ya.

Semoga bermanfaat :)

Note : Baca juga artikel soal jalan-jalan dengan ikut menekan "klik" pada link yang terletak di bagian akhir paragraf ini. Bagaimana kita bisa mengasah emosinya dengan pergi jalan-jalan dan menemui banyak orang lho. Bisa jalan-jalan ke tempat wisata seperti Bangka Belitung, Raja Ampat, Bali, dan lain-lain. Untuk Sewa Mobil Belitung, tulisan ini bisa menjadi rekomendasi ya.



4 Keuntungan ASI. Tidak Hanya Untuk Bayi Lho!

 Mungkin diantara kita sudah sadar akan pentingnya ASI. Edukasi soal pentingnya ASI juga bisa kita akses melalui media manapun, dan tentunya sudah banyak tersedia di sana. Hanya saja, kali ini saya ingin menyarikan keuntungan ASI dari sudut pandang ahlinya. Dari sebuah buku karya dokter terkenal itu. Hayoo siapa? Yuk, tuntaskan membaca artikel ini.

keuntungan ASI

ASI : Nutrisi Paling Penting dalam Enam Bulan Pertama

Banyak pertanyaan memenuhi kepala seorang ibu baru yang memasuki "masa transisi". Untuk itu, bekal pemberian nutrisi anak yang tepat harus dimiliki oleh seluruh orangtua, tak terkecuali. Apapun pangkat dan golongannya. Pertumbuhan dan perkembangan optimal seorang anak adalah tujuan yang ingin kita capai bersama kan?

Yuk kita mulai dengan memahami pentingnya pemberian ASI bagi bayi terlebih dahulu, dilanjutkan dengan praktik pemberian makanan pendamping ASI lalu memantau pertumbuhan anak dengan benar.

Perlu diingat bahwa :

  • Ibu yang baru melahirkan akan memproduksi ASI yang cukup bagi bayinya untuk dapat tumbuh. Hal itu juga dipengaruhi oleh tidak diberikannya minuman atau makanan selain ASI.
  • Produksi ASI mengikuti prinsip demand and supply. Yakni semakin sering bayi menetek ke payudara ibu, maka makin banyak produksi ASI yang dihasilkan. Apabila bayi diberikan susu formula atau cairan lainnya, maka suplai ASI akan menurun. Seorang Ibu harus membekali dirinya sebaik mungkin dengan ilmu terkait ASI.

Apa Saja Keuntungan ASI?

Keuntungan ASI ini tidak hanya bagi bayi lho, tapi juga untuk ibunya.

1. Manfaat Imunologis

Keuntungan ASI dalam hal daya tahan tubuh ini bisa dirasakan oleh bayi. Karena ASI adalah substansi "hidup" dan kandungannya senantiasa berubah menyesuaikan dengan kebutuhan bayi. 

Selain berisi nutrisi, ASI juga mengandung antibodi yang mampu memerangi berbagai infeksi yang masuk ke tubuh bayi. Sejak masih berupa kolostrum (ASI yang dihasilkan saat jam-jam awal pasca persalinan). Kolostrum lebih kaya protein, rendah gula dan lemak.

Bayi yang diberi ASI mendapatkan kekebalan yang lebih baik saat menghadapi penyakit "langganan" seperti selesma/common cold (batuk-pilek), dan gangguan pencernaan.

 Penelitian menunjukkan pemberian ASI selama enam bulan mengurangi angka diare sampai setengahnya, dan infeksi saluran pernapasan sampai sepertiganya.

2. Manfaat Nutrisi

Pemberian ASI terbukti sesuai dengan laju pertumbuhan dan memenuhi kebutuhan nutrisi bayi cukup bulan. 

ASI mengandung cukup karbohidrat, lemak, protein, dan mikronutrien yang dibutuhkan bayi dalam enam bulan pertama pertumbuhannya.

Jumlah nutrisi tersebut senantiasa berubah mengikuti usia anak. Namun, ada beberapa mikronutrien yang tidak tercukupi, misalnya zat besi yang disarankan suplementasinya ketika bayi cukup bulan memasuki umur 4 bulan.

Dibandingkan dengan susu formula, ASI mengurangi risiko bayi menjadi anak yang obes (kelebihan berat badan) pada kemudian hari.

3. Manfaat Emosional

Bayi yang disusui langsung ibunya mendapatkan rasa aman, dan meningkatkan kedekatan emosional Ibu dengan anaknya. 

Bayi yang mendapatkan susu formula juga bisa mendapatkan kedekatan efektif dengan orangtuanya, misalnya dengan kontak mata saat memberikan susu formula.

4. Keuntungan ASI bagi Ibu

Ibu menyusui terbukti lebih rendah berisiko mengalami kanker payudara, kanker ovarium (indung telur), diabetes, dan osteoporosis.

Berbagai bukti ilmiah menyarankan ASI sebagai satu-satunya makanan yang diperlukan agar bayi mendapat pertumbuhan dan perkembangan optimal. Menyusui dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit dan kebutuhan nutrisi bagi bayi.

Menyusui juga dapat mengurangi risiko terjadinya kanker payudara, kanker indung telur (ovarium), diabetes, juga osteoporosis. Tak hanya itu, menyusui juga akan memberikan keintiman/ikatan yang kuat antara bayi dan ibu.

ASI merupakan cairan hidup yang komposisinya akan berubah seiring pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kandungan nutrisi ASI pun amat mudah dicerna sehingga dapat diserap secara optimal dan tidak memberikan beban berlebih pada ginjal bayi. Menyusui juga dapat mengurangi risiko terjadinya obesitas sepanjang kehidupan seorang anak.

Produksi ASI akan sangat berkaitan dengan permintaan sang bayi terhadap ASI. Semakin sering bayi mengisap payudara, semakin banyak ASI yang akan diproduksi. Hal itu membuat tambahan cairan atau formula selain ASI akan memengaruhi produksi ASI.

Mengapa sih ada Ibu yang dikatakan gagal memberikan ASI eksklusif? Apa si Ibu kurang jalan-jalan dan butuh hiburan? Simak penjelasan soal masalah Meng-ASI-hi di artikel berikutnya ya.

Referensi : Makan Tepat, Tumbuh Sehat oleh dr. Arifianto, Sp.A

Solusi Agar Kakak Beradik Tak Selalu Bertengkar

Sahabat, pernah ngga sih Anda menjumpai seorang kakak beradik yang sering sekali bertengkar, sehingga muncul tantangan tersendiri untuk orangtuanya. Memang ini bukan termasuk pekerjaan yang mudah, untuk bisa membuat agar si kakak bisa bermain akur dan tak bertengkar dengan adiknya, berantem tentang rebutan mainan ataupun rebutsn kasih sayang orangtuanya.

Meskipun semua orangtua sayang dengan semua anaknya, lakukan tips berikut agar bisa menjadi solusi agar kakak beradik tak selalu bertengkar. Agar mereka tetap bisa akur dan saling dayang. Apa saja? Simak penjelasannya berikut yuk!

solusi agar kakak beradik tak selalu bertengkar

Solusi Agar Kakak Beradik Tak Sering Bertengkar

1. Jangan Membanding-bandingkan mereka

Setiap anak sudah pasti terlahir dan memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Mereka sudah pasti memiliki kekuatannya masing-masing. Ketika adik memiliki kekurangan, dia juga pasti memiliki kelebihan.

Dalam kondisi seperti ini, yang terjadi justru orangtua akan sering membanding-bandingkan antara anaknya. Padahal, jika Anda menyadari ini adalah perbuatan yang sungguh menimbulkan dampak buruk bagi psikologis dan perkembangan si kecil.

Sadarkah Anda? Saat kita sudah melakukan hal ini pada anak kita? Sudah tentu akan menimbulkan hal buruk untuk perkembangan psikologisnya. Kakak dan adik yang sering dibanding-bandingkan akan memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah lho. Selain itu, mereka juga akan merasa kesal juga sulit akur dan membangun rasa sayang pada jajaka ataupun adiknya.

2. Jangan Memihak Pada Satu Anak

Jika kakak dan adik bertengkar, sebaiknya kita perlu untuk mengetahui apa penyebab dan kejadian yang menimbulkan konflik tersebut. Maka dari itu sangat perlu untuk tidak membela dan berpihak pada salah satu saja. Tetaplah untuk bersikap netral apabila Anda sedang menghadapi masalah yang mungkin saja akan muncul.

Jika diperlukan, ajaklah si kakak dan adik saling meminta maaf dan menyesali perbuatannya masing-masing. Bantulah mereka untuk mengetahui mana perilaku salah yang sudah dilakukan. Dengan begini Anak kita akan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama pada waktu lain.

Melalui sikap netral Anda, anak-anak tentu akan melihat bahwa orangtuanya adil kepada mereka berdua. Namun jika yang terjadi justru sebaliknya, Anda memihak pada salah-satu dari mereka sudah pasti akan muncul rasa benci dan pihak yang tidak di beka pada saudaranya tersebut.

3. Mendengarkan Keluhan Anak

Tak hanya seorang anak, orangtuapun juga memiliki banyak sekali keluhan. Entah itu keluhan sama temannya, sama keluarganya bahkan juga keluhan pada adik atau kakaknya. Apalagi jika sebelumnya di anak sudah sangat terbiasa memiliki semuanya sendiri, kemudian dia tiba-tiba pula harus bisa berbagi dengan saudaranya yang lain.

Jika Anda berapa pada posisi ini, sebaiknya adalah jangan menutup diri. Biarkan Anak Anda bercerita dan dengarkan semua keluh kesahnya, dengarkan semua yang di ceritakan ya dan biarkan mereka berbicara mengeluarkan semua keluh kesahnya. 

Setelah mereka merasa lega dan puas bercerita, silahkan Anda memberikan pengertian padanya. Bicaralah pada mereka bahwa sejarah apapun kita, selesai apapun kita sama kakak atau adik kita, kita harus tetap menyayangi mereka, ajarkan pula cara yang paling pantas untuk mengekspresikan kekesalannya tersebut.

Kita pun juga bisa memberikan contoh tentang bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan bude, pakde, om atau tantenya. Ceritakan jika Anda pun pernah merasa kesal saat kecil dulu, namun ceritakan bahwa Anda akan terus menyayangi mereka hingga akhirnya bisa selalu rukun sampai sekarang.

4. Libatkan Anak Untuk Saling Membantu

Jika yang terjadi adalah kakak yang selalu saja berselisih paham sampai berkelahi, Anda sebaiknya jangan dulu untuk menjauhkan mereka. Libatkanlah mereka dalam kegiatan bersama yang aman dalam membiasakannya untuk saling membantu satu sama yang lain. 

Seperti ketika mereka selesai menggunakan mainannya, biarkan untuk mereka bisa saling membantu untuk membereskannya bersama-sama.

Anda pun juga bisa meminta bantuan dari kakak atau adik untuk saling mengajari dan memberikan contoh satu dengan yang lain. Seperti jika adik kesulitan saat memberi warna pada gambarnya, mintalah untuk si kakak bisa membantu adiknya. Begitu juga sebaliknya, jika si kakak kesulitan untuk mengambil gelas minumnya, biarkan adiknya yang membantu untuk mengambilkan bola si kakak.

5. Berilah Solusi Yang Terbaik

Zaman dulu, pola asuh yang ada dan sering sekali di terapkan adalah bahwa seorang kakak harus bisa mengalah dengan adiknya. Orangtua dulu mungkin belum menyadari bahwa cara asuh seperti ini hanya akan membuat hubungan kakak dan adik menjadi semakin merenggang dan sangat rentan menjadikan mereka bermusuhan.

Seorang kakak yang seharusnya malah di hormati adiknya. Mungkin saja akan kehilangan rasa percaya dirinya. Sementara si adik akan tumbuh menjadi pribadi yang akan mudah untuk menyalahkan orang lain.

Oleh karena itu, berilah solusi yang tepat dan lebih masuk akan, bukan hanya menurut usia kakak yang lebih tua dan lebih dulu mengerti daripada adiknya.Seperti ketika kakak dan adik saling berebut mainan. Berilah solusi untuk mereka bisa bergantian bermain, dengan begini anak akan bisa saling berkompromi dan mencari solusi terbaik dari permasalahan yang mereka hadapi.

Itulah sedikit tips solusi agar si kakak beradik tak selalu bertengkar antara satu dengan yang lain. Yuk lakukan tips sederhana ini untuk membuat hubungan kakak beradik menjadi lebih akur dan saling menyayangi antara satu dan yang lain. Jika anak kita saling menyayangi saudaranya, maka mereka juga akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki sifat lebih lembut, penyayang dan peduli pada orang lain.

Semoga bermanfaat ya.

Cara Mengenalkan Seks Sejak Dini

Mengenalkan seks sejak dini kepada anak-anak, menjadi salah satu tugas besar bagi para orangtua. Karena jika kita melihat perkembangan teknologi yang luar biasa pesat, maka anak-anak mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk mendapatkan informasi apapun dan dari manapun.

Terlebih, kasus dengan kejahatan seksual pada anak pun semakin marak. Mulai dari yang paling sering dijumpai, hingga kasus aneh-aneh yang mungkin saja terjadi pada anak-anak kita. 

Hal ini tentu saja sangat meresahkan bagi orang tua, selain tentu saja hal tersebut adalah kewajiban bagi kita untuk menjaga dan melindungi buah hati. Belum lagi jika kita melihat dari beberapa kasus yang tertangkap oleh media, sebagian pelakunya berada pada lingkungan keluarga dekat.

mengenalkan seks sejak dini

Salah satu tindakan preventif yang bisa kita lakukan adalah mengenalkan seks sejak dini. Lanjutkan baca ya, kita bahas tentang tips-tips yang terkait. 

Tips Mengenalkan Seks Sejak Dini

Berikut yang bisa kita lakukan untuk memberikan pengenalan seks pada anak sejak dini :

1. Kenalkan Anggota Tubuh Dengan Baik

Salah satu hal yang banyak dikatakan oleh para ahli adalah dengan mengenalkan penyebutan anggota tubuh, khususnya alat kelamin dengan benar dan perbedaan antara perempuan dan laki-laki.

Penyebutan alat kelamin (penis dan vagina) yang benar, diharapkan dapat memudahkan anak untuk meminta bantuan jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Setelahnya, kita juga bisa menyampaikan padanya, anggota tubuh mana saja yang boleh dan tidak boleh disentuh maupun dilihat oleh orang lain, serta fungsi-fungi yang menyertai.

Meskipun untuk saat ini saya belum menerapkan hal ini, namun cara mengenalkan anggota tubuh ini sudah seharusnya dicoba ya. 

2. Ajarkan Rasa Malu

Ketika anak sudah paham dengan anggota tubuhnya, ajarkan juga tentang rasa malu. Ajarkan juga bahwa seorang manusia sudah seharusnya memiliki rasa malu. 

Hal-hal yang bisa kita ajarkan seperti batas pergaulan antara perempuan dan laki-laki, anggota tubuh mana saja yang tidak boleh dilihat di tempat umum atau untuk menjaga pakaiannya supaya tetap tertutup dengan rapi.

3. Batasi Screen Time

Saat ini, banyak kita jumpai anak-anak yang sudah diberikan gawai oleh orang tua secara pribadi. Tanpa kita sadari, banyak pula konten maupun gim, yang di dalamnya mengandung unsur kejahatan seksual ataupun pornografi. Tentu saja anak-anak banyak yang tidak menyadarinya, hingga pada akhirnya mereka mencoba apa yang dilihatnya.

Saya sendiri pernah melihat iklan bertebaran melalui handphone, iklan tentang gim yang melibatkan laki-laki dan wanita. Keduanya sudah bisa ditebak ya akan seperti apa. Menjalin hubungan, lalu salah satunya selingkuh dan memperlihatkan gambar-gambar yang tidak seharusnya dilihat oleh anak kecil.

Mungkin kita bisa membatasi iklannya, tapi kita tidak akan pernah tahu apa yang sedang diakses anak di balik layar gawainya kan? Karena tidak mungkin kita terus-terusan memantaunya ketika menonton Youtube dari gawai misalnya. Hal yang bisa kita lakukan adalah dengan membatasi screen time-nya. Sehingga kita juga bisa ikut dalam aktivitasnya ketika bersama smart phone.

4. Bangun Kepercayaan

Menyediakan waktu untuk berbincang bersama anak, dipercaya dapat meningkatkan ikatan emosional dan kepercayaan antara anak dan orang tua. Jadilah teman bicaranya yang baik, yang tidak menghakimi ketika dia bercerita. Berikan kenyamanan bagi mereka, untuk menceritakan apapun tanpa menutupi sesuatu.

Anak yang terbiasa demikian, biasanya akan tetap terbuka hingga mereka dewasa dan tentu saja ketika tengah mengalami sesuatu.

5. Bicarakan Seks Dalam Keluarga

Pendidikan seksual sejak dini, tentu saja dimulai dari rumah. Membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan sex education pada mereka dalam keadaan santai, akan menyingkirkan stigma tabu dalam diri mereka.

Sebab saat ini, pendidikan seksual bukan lagi sesuatu yang tabu sebab mudahnya mengakses informasi. Itulah peran kita, menjadi penyaring bagi anak kita terhadap mudahnya mendapatkan info apapun.

Orang tua juga tentu dituntut selalu memperbarui ilmu tentang pendidikan seksual ini, hal yang bisa kita lakukan untuk diri kita sebagai orang tua antara lain dengan mengikuti kelas-kelas pengasuhan atau bergabung dengan komunitas-komunitas yang menjadi wadah berkumpulnya para orangtua.

Pendidikan Seksual Sejak Dini

Pendidikan seksual sejak dini pada anak, sejatinya telah bisa kita mulai sejak mereka berumur 0 bulan. Yakni dengan tidak memandikannya di tempat umum, menutup anggota tubuhnya dengan proporsional atau juga dengan mengenalkannya pada lingkungan yang positif.

Sekali lagi, pendidikan seksual ini merupakan hal yang penting dan segeral mulai perbincanga ini bersama anak-anak di rumah. Tentu saja pendidikan seksual pada anak harus diterapkan sesuai tahap perkembangannya ya. Kita bisa mulai mencari tahunya dari jurnal pendidikan seksual pada anak usia dini maupun artikel tentang pendidikan seksual. Syukur-syukur kalau bisa ikut kelas parentingnya.

Seberapa penting pendidikan seksual diajarkan sejak dini? Jawabannya sangat penting. Kita tidak akan bisa menjamin anak kita akan selamat dari paparan hal-hal negatif di luar sana. Oleh karena itu, kitalah yang seharusnya memulai hal penting ini. Sebab jika buka dari kita, mereka akan mencari tahu sendiri dengan filter informasi yang sangat minim.

Tips Mengajarkan Anak Tentang Disiplin

Mengajarkan anak tentang disiplin tentu tidak mudah. Namun bukannya tidak mungkin untuk diusahakan. 


Tips Mengajarkan Anak tentang Disiplin

Bunda, apakah Anda termasuk orangtua yang mengalami kesulitan ketika mengajarkan anak tentang disiplin? Bagaimana sih agar Anak kita menjadi disiplin tanpa membuat orangtuanya memaksa, yuk simak tips menarik mengajari Anak tentang disiplin berikut ya :

1. Jadwalkan Kegiatan Rutinitas

Dengan memberikan jadwal kegiatan dengan rutin pada si kecil, kita sudah mampu mengajarkannya tentang disiplin pada waktu. Bangunkan si kecil pada waktu yang sama setiap harinya, lalu ajaklah dia untuk mandi dan sarapan pagi sebelum dia memulai aktivitasnya yang lain. 

Kegiatan rutin ini akan semakin baik jika kita membuatnya dengan cara tertulis dan bisa di baca atau di lihat oleh anak-anak kita.

Sehingga anak akan menjadi lebih disiplin karena terbiasa melihat jadwal mereka yang sudah dibuat dan akan menjalaninya dengan gembira. Melalui cara ini, sikecil akan terbiasa untuk melakukan kegiatan yang sudah disepakatinya, cara ini juga bisa mengajarkan dia untuk lebih bertanggungjawab ketika melakukan aktivitasnya sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan.

2. Ajarkan Dan Jelaskan Perintah Dengan Detail

Ketika usia anak masih terlalu kecil, dia akan sulit menerima dan memahami suatu perintah yang abstrak. Si kecil akan mudah memahami jika kita menjelaskannya secara spesifik. Misalnya saja ketika kita meminta sikecil untuk membereskan mainannya, usahakan untuk bisa menjelaskan dengan detail apa yang harus dia lakukan. 

Kapan dia harus melakukannya dan mengapa dia perlu melakukannya, dengan cara ini sikecil akan lebih mudah memahami keinginan kita, dan seiring waktu dia akan melakukan apa yang sudah pernah kita sampaikan dengan sendirinya.

3. Konsisten Di Hadapan Anak

Bund, pasti pernah kan mengalami perbedaan pendapat saat kita berdiskusi dengan anak tentang cara mendidik dan membuat anak menjadi disiplin? Hal ini memanglah wajar terjadi, karena kita pasti punya keinginan untuk memberikan sesuatu yang terbaik untuk anak kita.

Namun, sebaliknya perbedaan ini jangan dibawa di depan anak kita ya bun, pastikan kita sudah satu suara saat mengajarkan kedisiplinan untuk anak kita. Jika kita memiliki pendapat dan suara yang berbeda, tentunya anak juga akan merasa bingung harus nurut yang mana?

Tetapi jika kita ayah dan bundanya satu suara dan konsisten dengan pilihan itu, maka dia akan lebih mudah dalam melatih kedisiplinannya.

4. Ajari Anak Tentang Konsekuensi Dan Apresiasi

Ini adalah hal yang paling mudah untuk mengajarkan anak melatih kedisiplinannya. Yaitu dengan cara memberikan konsekuensi dan memberinya apresiasi. Ketika di kecil berhasil melakukan suatu hal dengan disiplin, berilah dia apresiasi dengan pujian atau pelukan untuknya.

Kita juga bisa membuatkan papan tulisan sederhana tentang seluruh pencapaiannya selama ini. Bisa juga membuatkan amplop khusus untuk diisi jika si kecil berhasil melakukan kedisiplinan. Berikan waktu dan lihatlah betapa banyak usahanya untuk menjadi anak yang disiplin. Jika amplop itu sudah penuh, kita bisa memberikan hadiah kecil untuk membuatnya semakin bersemangat lagi

Sebaliknya, kita juga perlu untuk mengajarkannya tentang konsekuensi. Saat si kecil melakukan hal yang tidak disiplin, berikan konsekuensi yang telah kita setujui dengan anak sebelumnya. Misalkan ketika si kecil tidak berhasil membereskan mainannya sendiri, maka dia tidak akan bisa bermain dengan mainannya yang lain. 

Sampai mainan yang sebelumnya dibereskan. Dengan mengajarinya tentang hal sederhana ini, seiring waktu si kecil akan memahami tentang pentingnya sikap disiplin.

Nah, itulah beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk mendidik anak menjadi lebih disiplin. Bagaimanapun, mengajarkan anak tentang disiplin sejak dini, berarti kita sudah menyiapkan anak untuk masa depannya yang lebih baik. 

Tak ada yang salah dengan mengajarkannya disiplin sejak mereka masih kecil. Justru dengan cara ini, anak akan menjadi terbiasa dan selalu melakukan disiplin ketika mereka besar nanti. Semoga bermanfaat ya ;)

4 Tips Mengatur Pola Makan Sehat Kepada Anak

Beberapa ibu pasti khawatir jika anaknya tidak mau makan. Beberapa tips mengatur pola makan sehat untuk anak di bawah ini mungkin bisa membantu para ibu yaa.

Ketika memasuki usia 6 bulan, yang dibutuhkan oleh anak adalah tambahan gizi dari luar yang biasa disebut dengan Mp-Asi. Di usia ini, Anda bisa memberikan Makanan pendamping asi atau MPASI sesuai dengan takaran juga tahap perkembangan usianya.

tips mengatur pola makan sehat

Dalam memberikan makanan pertama pada anak, sudah tentu akan mempengaruhi pola makan sehat yang akan terbentuk. Itulah perlunya tips mengatur pola makan sehat kepada anak agar Anda dapat membentuk pola makan sehat pada anak sejak dini. Bagaimana caranya? Yuk simak selengkapnya dibawah ini ya

 Tips Mengatur Pola Makan Sehat Kepada Anak 

1. Menu Makanan Yang Beragam

Banyak kita jumpai seorang anak yang tumbuh menjadi seorang picky eater atau suka memilih-milih makanan karena kurangnya variasi makanan yang kita berikan ketika mereka masih usia balita.

Ragam menu makanan yang kita berikan saat masih balita, selain bertujuan untuk membiasakan anak makan beragam jenis tanpa pilih-pilih, variasi menu makanan juga akan membuat si kecil akan bisa menikmati waktu makan, karena bisa mengurangi rasa jenuh akibat pemberian makanan yang sama dan anak juga bisa mendapatkan asupan gizi yang lebih seimbang dan lebih lengkap.

Biarkan si kecil mencoba bermacam-macam rasa dan jenis makanan sejak mereka kecil. Tetapi tetap pastikan jenis makanan yang dicobanya tetap sehat dan terjaga kebersihannya.

Dengan mengenalkan berbagai macam makanan ketika anak kita sudah besar, maka potensi timbulnya reaksi alergi akan lebih besar dibandingkan ketika kita mengenalkannya ketika usia anak kita masih kecil (sekitar usia 7-8 bulan).

Jika Anda memiliki riwayat alergi makanan yang serius, silahkan konsultasikan pada dokter Anda untuk menangani dan mencegah alergi itu terjadi pada anak Anda ya.

2. Makanan Dengan Gizi Seimbang

Sudah jadi kewajiban ketika kita memilihkan makanan untuk anak kita, kita harus memperhatikan nilai dan kandungan gizi pada makanan tersebut. Saat ini, marak terjadi bahwa orangtua lebih membatasi untuk mengkonsumsi karbohidrat dan lemak pada anaknya, mereka justru memperbanyak protein serta serat yang ada pada makanannya. 

Padahal, yang dibutuhkan anak usia balita adalah karbohidrat dan lemak untuk membantu proses tumbuh kembangnya. Sebagai upaya membentuk pola makan sehat untuk si kecil, lebih baik tetap penuhi kebutuhan gizi mereka secara seimbang. 

Pilihkan makanan yang mengandung tinggi zat besi untuk membantu pertumbuhan juga perkembangannya. Mengingat kadar zat besij pada Asi setelah anak berusia 6 bulan sudah sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan si kecil.

 
Anda bisa mengkombinasikan menu makanan berikut untuk menjaga pola makan sehat anak tetap terjaga, seperti :

Karbohidrat dari nasi, kentang, jagung, berikan secara bergantian

Protein hewani dari hati ayam, ikan, daging, telur juga protein nabati dari kacang-kacangan

Lemak bisa dari mentega, minyak sayur, santan juga makanan dari sumber omega 3 dan 6

Buah dan sayuran yang berbeda setiap hari

Susu dan produk olahannya seperti yoghurt juga keju.

3. Terapkan Jadwal Makan Yang Teratur

Setelah kebutuhan gizi pada makanannya telah terpenuhi, untuk bisa membentuk pola makan sehat pada si kecil adalah diperlukannya pola jam makan yang teratur. Pastikan Anda memberikan makan pada si kecil di jam yang sama setiap harinya, makan besar dengan porsi tiga kali sehari, misalkan Anda memberi makan pukul 7 pagi, 12 siang, dan 6 sore. 

Kemudian di antara jam tersebut, Anda bisa memberikan cemilan sehat di jam 10 pagi dan jam 3 sore.
Bagaimana cemilan yang sehat untuk si kecil? Sebisanya Anda hindari memberikan dia makanan dari olahan yang mengandung kadar gula yang tinggi. Berikan cemilan sehat seperti buah atau biskuit khusus yang, Anda juga bisa memberikan cemilan dari sumber karbo yang di kukus seperti kentang kukus, wortel kukus atau brokoli kukus.

Dengan memberikan makanan pada si kecil dengan jam dan waktu yang sama setiap hari, si kecil akan terbiasa dan lebih disiplin dalam menentukan jadwal makannya. Perhatikan dalam memberikan jarak antara makan dan susu paling sedikit 2 sampai 2,5 jam setiap harinya. 

Hindari memberikan susu untuk mengganti makan pada jadwal yang telah di tentukan ya, hal ini untuk memaksimalkan nafsu makan si kecil agar tetap terjaga. Jika perlu, berikan selingan air putih juga diantara waktu makannya.

4. Berikan Porsi Makan Yang Tepat

Anak balita memiliki ukuran perut yang lebih kecil dari orang dewasa, maka sangat penting untuk kita bisa lebih mengerti tentang porsi makannya. Mengerti jika posri makan mereka akan lebih sedikit dari kita. Tapi, meskipun porsinya sedikit pastikan Anda memberikan makanan yang lengkap dengan nutrisi yang padat.

Cobalah untuk memberikan metode responsive feeding untuk membantu mereka mengenal rasa lapar dan kenyang. Jika si kecil lapar dan tetap mau makan, silahkan tambahkan porsinya. Sebaliknya, apabila si kecil menolak untuk makan. Hindari memaksanya, Anda bisa membujuknya dengan hal yang positif, jika itu tidak berhasil lebih baik hentikan proses makannya, dan usahakan dalam proses makan agar tidak lebih dari 30 menit.

Sebaiknya batasi pemberian susu untuk mencegah perut si kecil terlalu penuh sehingga mereka tidak tertarik dengan makan. Jika si kecil berusia 2 tahun, baiknya berikan asupan susu per harinya maksimal 2 kali saja ya.


Nah, itulah beberapa tips mengatur pola makan sehat kepada anak yang bisa Anda lakukan sejak anak berusia dini. Pola makan sehat yang telah terbentuk sejak kecil, akan bisa membuat si kecil lebih memperhatikan cara mengkonsumsi makanannya ketika dia beranjak besar nanti.

Bolehkah pemberian makan diserahkan pada asisten? Apalagi pengaturan pola makan yang diserahkan pada asisten virtual

Hmm bagaimana menurut pendapat para ibu nih?